Marga Gilik: Mempertahankan Hutan dari Ekspansi Kelapa Sawit

Marga Gilik yang dibicarakan disini adalah marga atau sub marga Gilik yang berada di Kampung Malalilis, Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat, yang mana leluhur mereka berasal dari kampung asal di Limbwala, pinggir Kali Kalawele dan Sigituwe, pinggir Kali Kalalolo dan Kalagisik.

Terdapat cerita mitologi bahwa asal muasal Marga Gilik berhubungan dengan tanaman dan hewan tertentu. Diyakini, sejak semula leluhur Marga Gilik sudah ada disebuah tempat bernama Kalagisik Mesidi, sekitar Kali Kalagisik.

Dalam cerita sejarah lokal, sebelum adanya pemerintahan dan masuknya ajaran agama, leluhur Marga Gilik, berdiam dibeberapa tempat disekitar Kali Kalawele, Kalasafit, Kalalein, Kalagisik dan Kalamo. Kemudian, setelah adanya pemerintahan, mereka tinggal di Limbwala, lalu bermigrasi ke Sigituwe. Tempat-tempat ini dikenal sebagai kampung tua dari Marga Gilik dan Marga lain, seperti: Marga Do dan Kalasibin Kalawomok.

Pemimpin pertama atau orang tua Kampung Limbwala yang berhubungan dengan pemerintahan saat itu adalah Igiwon Gilik, lalu saat di Sigituwe dipimpin oleh Salmon Gilik dan Semuel Gilik, digantikan lagi oleh Yeheskiel Klasibin dan Simon Sapissa.

Saat ini, turunan Marga Gilik atau sub marga Gilik yang sudah berdiam di Kampung Malalilis adalah Gilik Milo, Gilik Inemala, Gilik Kalawele, Gilik Kalasafit. Mereka berada dibawah pimpinan Marga Gilik, bernama Bernadus Gilik.

Pada Kampung Malalilis terdapat pula marga-marga lain, yakni: Marga Do, Kalasibin Kalawomok, Kalalu Milo, Lagu Milo, Malak, Samolo Labawak, Samolo Gelekofok, Sapisa, Kalasibin Lebewilik. Setiap marga menguasai dan mempunyai wilayah adat masing-masing.

Kehidupan Sosial Budaya

Marga Gilik merupakan salah satu bagian dari Suku Moi, berdasarkan identitas bahasa yang digunakan adalah Moi Kelin, sehingga mereka disebut juga Suku Moi Kelin. Suku Moi Kelin adalah salah satu sub suku Moi yang berada di wilayah adaministrasi pemerintahan Kabupaten Sorong (Torianus 2010[1], Malak 2011[2]).

Dalam kehidupan sehari-hari, Suku Moi Kelin di Kampung Malalilis masih menjalankan kebiasaan tradisi budaya, norma dan pengetahuan kearifan setempat, yang sudah dilakukan secara turun temurun dan juga mengalami perubahan perkembangan. Misalnya, adat istiadat perkawinan, berburu, berkebun, bergaul, menyelesaikan konflik, dan sebagainya.

Ritual dan pengetahuan tradisional masyarakat Moi di Kampung Malalilis, sebagai berikut:

  1. adat perkawinan, dimulai dari pinangan (kamfawe), keluarga laki-laki meminang perempuan membawa barang-barang, seperti kain, piring, manik-manik, dan sebagainya, melakukan ikatan perkawinan (buk sabak), melakukan mengantar harta besar (kata) dan pesta kawin (welsigik).
  2. adat setelah perempuan melahirkan, perempuan dilarang pantang keluar rumah dan melakukan aktivitas selama tiga minggu. demikian pula, suami dan anak-anak tidak boleh tinggal di rumah, mereka tinggal di rumah keluarga, ke kebun atau pergi berburu, berusaha untuk keluarga, isteri dan anak bayi.
  3. adat untuk anak yang pertama kali masuk ke hutan, orang tua bapak atau ibu, mengambil daun nibun muda atau daun rotan muda, membelah daun mulai dari pucuk, sambil mengucapkan kata-kata untuk leluhur, “tumunan tempanan teba talkiyem, nanfal malidau, nanal kiem masuof, nando kiem masuof, nan pa kiem masuof, nansi pi iwo, nanfal malis fiko”, artinya papak, mama, tete, saudara-saudata, jangan kau biarkan anak kecil menangis, tidak tidur malam, sayangi dia, anak ini juga saudaramu, lalu ketika tiba di rumah, diambil tanah dan digosok di dahi. Ritual ini dimaksudkan agar leluhur menjaga, melindungi dan memberikan sukacita bagi anak kecil dan keluarganya.
  4. adat untuk pergaulan sehari-hari, seperti: mengucapkan salam setiap bertemu, saling membantu dan gotong royong dalam mengatasi masalah keluarga, perkawinan, kematian dan kegiatan bersama.

Pengetahuan Berkebun

Masyarakat adat Moi di Kampung Malailis mempunyai usaha perkebunan tanaman pangan, dengan menanam Jenis tanaman yakni kasbi, pisang, batatas, sayur-sayuran, rica, tomat, pepaya, kelapa, jagung, tebu dan pohon buah-buahan. Hasil kebun digunakan utamanya untuk konsumsi pangan keluarga dan dijual ke pasar.

Pengetahuan pengelolaan kebun masih tradisional, menggunakan alat-alat sederhana, tanpa mesin dan tenaga inti keluarga, dalam skala luas kebun terbatas dibawah satu hektar untuk setiap keluarga.

Di Malalilis, tanah untuk kebun (kisik) bersumber dari hutan sekunder (kisik dek) bekas kebun dan bukan hutan alam yang disebut okolo. Sebelum hutan tersebut ditebang, terlebih dahulu diawali dengan menilai fungsi dan situasi hutan, keberadaan hutan keramat, situs budaya, dan sebagainya, lalu pemilik kebun pamit kepada leluhur setempat dengan upacara adat (benfie), membawa sesaji dari sagu olahan, rokok, dan sebagainya.

Cara menyiapkan lahan kebun, dilakukan dengan sistem tebang dan bakar, dilanjutkan dengan menanam tanaman. Untuk mengatasi hama dari binatang seperti babi, maka kebun di pagar, dipasang jerat dan dijaga oleh pemilik kebun. Ritual adat kebun juga dimaksudkan untuk meminta leluhur menjaga kebun dan menghindari dari bencana dan hama.

Pengelolaan Sagu

Setiap marga dalam Suku Moi memiliki masing-masing dusun sagu di setiap wilayah adatnya. Tanaman sagu (iwa) diolah menjadi tepung sagu (iwa muk) merupakan sumber pangan utama masyarakat. Tepung sagu dibuat menjadi bahan makanan lokal disebut papeda, sagu kering, sagu bakar, dan jenis kue lainnya. Manfaat lain, tulang dari daun sagu digunakan untuk berburu, bahan penerangan, sapu lidi, daunnya untuk atap dan pembungkus makanan olahan sagu, ampas sagu juga digunakan untuk menghasilkan jamur, makanan babi pelihara dan umpan babi hutan.

Cara pengolahan tepung sagu, terlebih dahulu memilih pohon sagu usia panen, lalu ditebang menggunakan kapak. Selanjutnya, pohon sagu dibelah dan dibersihkan, dipangkur dan diramas dengan air, disaring hingga menghasilkan tepung. Tempat pangkur sagu terbuat dari kayu dan bambu. Biasanya kegiatan pengolahan tepung sagu dilakukan dipinggir sungai.

Berburu

Masyarakat Moi hidup sangat tergantung pada hasil hutan, seperti kegiatan berburu (umsi) mencari dan menjerat hewan liar di hutan, dan mencari ikan di sungai. Sebelum pergi berburu, masyarakat melakukan ritual mengucapkan doa-doa meminta izin dan rezeki dari leluhur penghuni tanah, menyajikan sagu pada tempat keramat dan tempat hunian leluhur yang dilalui saat ke hutan.

Hewan buruan yang sering didapat masyarakat yakni babi, kasuari, rusa, kangguru, tikus tanah, soa-soa, ikan, burung, ular, ulat kayu, ulat sagu, dan sebagainya. Tidak semua hewan bisa diburu, utamanya hewan yang berhubungan dengan sejarah asal muasal leluhur dan hewan beracun.

Pengetahuan berburu dilakukan dengan berbagai tehnik, yakni (1) kegiatan berburu menggunakan anjing (ebe ufun) dan menggunakan alat tombak (sawiek); (2) kegiatan berburu tanpa menggunakan anjing disebut ikwalak, berburu hanya menggunakan patokan arah angin, menggunakan tombak dan bambu runcing (bagoro); (3) berburu dengan cara menggunakan sagu pele disebut kadus. Pada areal bekas dusun sagu, pemburu menyediakan ampas sagu dan rumah perangkap untuk tempat sembunyi, hewan buruan ditombak saat mendekati rumah perangkap; (4) berburu menggunakan jerat (tan kinis), jerat terbuat dari tali pohon ganemo, jerat ini juga digunakan untuk menangkap burung, anak babi, tikus tanah; (5) berburu menggunakan jerat ranjau dari bambu runcing disebut kelmasin, jenis ini jarang digunakan karena berbahaya bagi pemburu dan hewan buruan; (6) menangkap ikan dan udang dengan alat parang dan kalawai (tombak bermata tiga), disebut yesayi, terlebih dahulu kali dikeringkan, air di hulu ditutup dan dihalang dengan tanah (umuai gal); (7) menangkap ikan menggunakan ramuan (toki bore atau ben muk) dari daun, kulit kayu dan akar tertentu yang membuat ikan mabuk; (8) menggunakan isene gala, menghalang dan mengeringkan air kali kecil.

Arsitek Rumah

Pengetahuan masyarakat untuk pembangunan rumah tradisional sangat beragam, sebutannya berbeda menurut kegunaan, tehnik dan bahan-bahan yang digunakan. Pengetahuan arsitek rumah masyarakat Moi di Kampung Malalilis, sebagai berikut:

  • keik ainbolon, atau rumah panggung berlokasi di dusun sagu dan dusun kebun, berfungsi untuk tempat tinggal sementara saat musim berburu, mengolah sagu, berkebun dan sebagainya. Keik ainbolon terbuat dari atap dari daun sagu tanpa dijahit, atap dari daun pohon nibon, tiang dari kayu, dinding dari kulit kayu yang dikupas;
  • keik sabo, atau rumah panggung dengan ukuran yang lebih besar dari keik ainbolon, terbuat dari bahan yang sama dengan keik ainbolon. Tiang rumah juga lebih banyak untuk menahan atap rumah.
  • keik samilikele, atau rumah panggung dengan tambahan teras dan ruangan dari rumah utama, dengan kegunaan tempat tidur terpisah dari bangunan utama, dapur tempat masak, tempat berisitirahat, tempat simpan bahan-bahan milik keluarga dan sebagainya. Bahan-bahan atap dari daun sagu yang dijahi. Rumah ini sering dgunakan dalam jangka panjang.
  • keik kesan lagi, atau rumah panggung yang lebih besar dengan tehnik seperti tumah kei Samili kele.
  • keik polwasa, jenis rumah panggung biasa, atap dari daun sagu dan tidak dianyam.

 

Saat ini bangunan rumah di Kampung Malalilis kebanyakan sudah berbentuk semi permanen, yang di bangun dari bantuan pemerintah Menteri IDT, dibangun tahun 2012.

Pengobatan tradisional

Orang Moi, utamanya kaum perempuan mempunyai pengetahuan pengobatan menggunakan jenis dan bagian tertentu dari tanaman, seperti: batang pohon, daun, kulit, getah, akar dan rumput, yang dicampur dengan benda tertentu, seperti minyak, lalu diolah dan dimasak, dan sebagainya. Prosesi pemungutan maupun pengobatan biasanya menggunakan ritual adat, tata cara dan pantangan, sebelum dan setelah pengobatan, dan sebagainya.

Di Malalilis, teridentifikasi beberapa pengetahuan pengobatan, yakni: (1) keracunan atau alergi makanan diobati dengan tanaman sejenis palem muda/nibon dengan cara dimakan bagian daging muda; (2) pegal badan, menghilangkan nyeri dan sakit perut diobati dengan daun gatal (semelas, bahasa moi), dengan cara menggosokkan pada bagian badan yang pegal; (3) batuk diobati dengan getah kulit ari pohon langsat (loun) hutan dengan cara dijilat getah kulit ari; (4) kencing manis diobati dengan kulit sejenis pohon kayu kammu tele (bahasa Moi), dengan cara kulitnya direbus dan diminum; (5) pemulihan perempuan setelah melahirkan diobati dengan sejenis kulit pohon kayu bernama komo kisi ola (bahasa Moi), dengan cara kulitnya direbus dan diminum, atau dicampurkan dalam makanan; (6) tambah darah diobati dengan kulit pohon kayu bernama musulung, dengan cara kulitnya dimasak dan diminum; (7) obat sakit kepala menggunakan tanaman sejenis daun tali hutan bernama gailas, dengan cara daunnya digosokkan di kepala atau dihancurkan daunnya dan ditempelkan di kepala.

Sistem Penguasaan Tanah

Secara umum, masyarakat adat Moi memiliki sistem penguasaan dan pemilikan tanah dan hutan disebut eges phumum, berdasarkan pengetahuan hukum kebiasaan setempat, sejarah pendudukan dan pemanfaatan tanah setempat, serta hak waris (teges te moi), yang secara turun temurun diketahui dan diakui masyarakat Moi. Tanah-tanah dikuasai dan dimiliki oleh kelompok atau marga tertentu pada sebuah daerah dengan batas-batas alam, dusun dan atau bekas tempat yang telah dimanfaatkan.

Tempat-tempat yang dikuasai dan dimiliki tersebut memiliki cerita-cerita, memiliki nama dan dinamakan oleh marga pemilik bersangkutan. Cerita sejarah, identitas nama tempat dan rutinitas pengelolaan tanah tersebut, menjadi identitas penguasaan dan pemilikan setiap marga. Karenanya, masyarakat Moi sudah mengenal dengan mudah asal muasal marga, mereka dapat mengetahui dan mengakui keberadaan  hak atas tanah dan wilayah adat dari menyebutkan nama marga.

Dalam cerita turun temurun, dikisahkan leluhur orang Moi di Kampung Malalilis, telah menguasai dan memiliki tanah dan hutan oleh setiap marga, berdasarkan pembagian tanah yang telah diwariskan dan usaha pemanfaatan ataupun kegiatan lainnya atas tanah dan kawasan hutan.

Tanah dan hutan adat milik dari Marga Gilik di Kampung Malagufuk, berbatasan dengan Marga Kalasibin Kalawomok, Marga Kalalu Milo, Marga Lagu Mido, Marga Malak, Marga Samolo Labawak, Marga Samolo Gelekofok, Marga Do, Marga Sapisa, Marga Kalasibin Lebewilik. Perbatasan tanah dan hutan tersebut, berbatasan dengan tanda-tanda alam, seperti sungai, dusun sagu dan urat punggung gunung.

Berdasarkan hasil pemetaan partisipatif diketahui tanah adat milik marga Gilik diperkirakan luasnya mencapai 3.538 hektar. Sebagian besar wilayah tersebut masih berupa hutan alam dan hutan primer, dengan ketinggian bervariasi dan sebagian besar merupakan daerah dataran renda.

Tempat-tempat yang dikuasai dan dimiliki marga Gilik dan marga lain umumnya merupakan areal berburu, bekas pemukiman, kebun dan tempat mendapatkan bahan makanan pangan, serta tempat-tempat keramat bagi masyarakat dan marga penguasa lahan.

Masyarakat mengenal dan mengetahui adanya hak-hak pengelolaan dan pemanfaatan atas hasil hutan kayu dan bukan kayu, serta hak pemanfaatan tanah diwilayah-wilayah adat marga, sebagai berikut:

  • hak memanfaatkan hasil hutan kayu untuk kebutuhan rumah dan tidak boleh untuk komersial, mengelola rotan, tali hutan, tanaman obat-obatan tertentu, berburu, memanfaatkan tanah untuk kebun, mengambil hasil sungai dan sebagainya. Hak ini disebut sugey. Setiap pemanfaatan dan pengelolaan hasil hutan dan tanah oleh pihak luar anggota marga, utamanya pengolahan hasil hutan kayu dan pemanfaatan tanah dalam jangka waktu panjang, maka terlebih dahulu mendapatkan restu dari marga penguasa wilayah setempat. Penguasa tanah tersebut disebut Newilik.
  • hak waris pemilikan dan pemanfaatan tanah dan hasil hutan yang diberikan dai diwariskan dari orang tua dan keluarga, hak ini disebut eges pemun.
  • hak atas tanah atau dusun sagu yang dimiliki perempuan dari pemberian orang tua, disebut su keban.
  • hak atas tanah yang diperoleh seseorang atau kelompok marga dari pemberian marga dan keluarga lain, karena atas jasa dan penghormatan mereka yang telah membantu dalam peperangan, disebut woti.

Pengelolaan dan Pemanfaatan Hasil Hutan

Keseluruhan wilayah adat Marga Gilik merupakan kawasan hutan. Umumnya masyarakat adat Moi berpandangan bahwa hutan ibarat seorang mama, perempuan yang memberikan kehidupan bagi anak-anak hingga akhir hayatnya. Karenanya, hutan memiliki nilai dan fungsi penting dalam kehidupan masyarakat, seperti fungsi sosial religius, tempat tinggal para leluhur dan sumber pengetahuan identitas yang harus dilindungi, fungsi ekologis sebagai tempat hidup tumbuhan dan hewan, fungsi sosial ekonomi sebagai sumber pendapatan, sumber makanan, dan sebagainya.

Masyarakat adat Moi di Kampung Malalilis dan Marga Gilik, memanfaatkan hasil hutan didaerah ini hanya untuk tempat berburu hewan liar yang dilakukan pada waktu tertentu, tempat memperoleh kayu untuk bahan bangunan rumah dan tidak boleh dijual. Masyarakat juga sering mengusahakan hasil hutan bukan kayu, seperti rotan, kulit kayu, daun, akar dan tali hutan, untuk bahan kerajinan rumah tangga, seperti membuat kain (Agmai) dan obat-obatan tradisional. Dalam hal pemanfaatan hasil hutan kayu, bambu dan sagu, bisa digunakan saat usia panen.

Masyarakat mengenal adanya larangan ‘sasi’ atau egek, yang melarang masyarakat untuk memanfaatkan dan mengelola tempat tertentu untuk sementara waktu, seperti di dusun sagu, kali. Larangan egek dilakukan untuk melindungi dan membatasi pemanfaatan pada masa tertentu selama satu tahun atau lebih berdasarkan kesepakatan masyarakat. Larangan egek juga dilakukan untuk menghormati jasa tokoh masyarakat yang meninggal.

Masyarakat juga mengetahui hasil hutan yang terdapat pada tempat keramat (kofok) tidak boleh dikelola dan dilindungi, karena jika dimanfaatkan hasilnya akan berakibat malapetaka.  Tempat keramat lain yang dilarang adalah tempat terdapat pohon-pohon besar, sejenis pohon beringin merah, disebut ifin. Tempat ini diyakini menjadi tempa tinggal para leluhur yang sudah meninggal. Tempat lain yang dilarang untuk digunakan dan diganggu adalah tempat tinggal dan tempat bermain burung cenderawasih, tempat ini disebut kelnain.

Pada tahun 1990, kawasan hutan milik Marga Gilik pernah dijadikan sasaran dan areal perusahaan HPH PT. Intimpura Timber, perusahaan mengambil hasil hutan kayu tanpa ada persetujuan masyarakat, masyarakat hanya diberikan uang kompensasi nilainya Rp. 20 ribu perkubik, tidak setara dengan kerugian dan kerusakan hutan. Saat ini, Marga Gilik tengah mengalami tekanan karena menolak kawasan hutan mereka dijadikan perkebunan kelapa sawit PT. Henrison Inti Persada.

Pemerintah juga mengkonversi kawasan hutan sekitar untuk budidaya perkebunan kelapa sawit PT. Henrison Into Persada (HIP), masih ada hubungan dengan PT. Intimpura. Sejak tahun 2006 hingga kini, perusahaan PT. HIP membongkar dan menggusur hutan setempat untuk lahan kelapa sawit. Marga Gilik bertahan, mereka belum mau memberikan persetujuan dan tidak mau kawasan hutan adat mereka untuk perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Desakan perubahan struktur agraria secara sistematik melalui izin konversi lahan dan hutan untuk pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan hutan dan lahan, maupun dampak dari  industri kayu dan lahan perkebunan, telah terbukti menyingkirkan dan menghilangkan hak dan akses masyarakat adat Moi dalam pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan dan lahan.

Ank, 2016

[1] Lihat: https://patele.wordpress.com/2010/02/16/malamoi-teges-pumun-tanah-pusaka-suku-moi/

[2] Malak, Stephanus, dan Wa Ode Likawati, Etnografi Suku Moi, Kabupaten Sorong, Papua Barat, 2011, PT. Sarana Komunikasi Utama, Bogor;

Post a comment